sampingan A Decade of Dreaming

A DECADE OF DREAMING: THERE WILL ALWAYS BE A WILL WHO WAITS FOR A WAY.

 

“When you cease to dream, you cease to live” – Malcolm S. Forbes

 

I know it will happens..
The time will comes sooner..
For every moment i’ve been dreaming..
For every single time i kept it alive..

Sepuluh tahun yang lalu, aku terjaga setelah mendengar bunyi alarm radio tape yang kupasang tepat jam 12 malam, waktu yang cukup larut bagi seorang anak SD yang dengan antusiasnya segera keluar dari kamar, menyalakan lampu ruang keluarga, mengambil sisa martabak semalam, dan segera menyalakan TV. Channel Trans TV. Tepat pukul 00:00. Aku telah menunggu sejak tadi sore, sebuah acara televisi yang previewnya tak sengaja kulihat sewaktu iklan. Aku yakin preview 30 detik tadi menjanjikan sebuah tontonan spektakuler. People running across London, driving double decker bus, acting like sherlock holmes. Acara ini berjudul… The Amazing Race.

Masih jelas diingatanku. tak sedikitpun kualihkan pandangan dari TV. Episode pertama yang kutonton, 5 tim, rushing around in the corner of London Eye, berkeliling menanyai penduduk lokal tentang sebuah zebra cross yang belakangan kuketahui namanya adalah Abbey road. Beberapa tim kemudian tampak overwhelmed ketika mesti menyetir bus double decker. Aku masih ingat tim Ucheena dan Joyce yang menjadi favoritku, berhasil menghindari eliminasi sewaktu race di London.

Tontonan satu jam yang begitu berkesan untukku, lebih berkesan dari episode Tuyul dan mbak Yul pertama yang kutonton sewaktu kelas 3 SD. Sekembaliku ke tempat tidur, aku tetap terjaga, pikiranku berkelana. London yang kulihat barusan memberi suatu excitement yang luar biasa, memberikanku sebuah kerinduan akan tempat yang tak pernah kusentuh, Memberikanku sebuah kesempatan untuk merangkai sebuah mimpi pertamaku. Malam itu aku mengikrarkan janjiku untuk suatu saat akan menginjakkan kaki di Buckingham palace. Bahkan akan ku jelajahi seantero inggris, atau bahkan seluruh eropa. Negara-negara yang hanya bisa kulihat atau kubaca di buku IPS, atau dari foto di papan monopoli.

Aku berdoa agar Tuhan mengabulkan mimpi seorang anak 12 tahun ini, lalu kemudian aku terlelap. Sejak saat itu, hari sabtu malam tepat pukul 00.00 menjadi suatu rutinitas baruku untuk menyelami setitik dunia melalui The Amazing Race.

Mimpi inilah yang membuatku bertahan menghadapi hari-hari penuh Bully sewaktu di Sekolah Dasar. Hari-hari ketika bangku dan mejaku dibuang dari dalam kelas, ketika aku dipukuli disudut kelas, dipaksa mencium ujung sepatu teman, dikucilkan di setiap pelajaran olahraga, atau ketika buku Harry Potter yang kutaruh di laci dibakar dilapangan samping sekolah. Hanya mimpi untuk meraih Eropa yang bisa membuatku tetap berjuang dan membuktikan diri agar tetap berprestasi secara akademik di Kelas. Sebab guruku pernah berkata “Buat mereka menyesal di masa depan ketika kamu mencapai mimpimu”. Mimpi ini yang menjadi Yin bagi Yang kehidupanku di Sekolah Dasar yang gelap gulita. This dream ceased me to live.

……………………………….

7 tahun lalu, di sudut perpustakaan sekolah menengah atas, aku membuka halaman demi halaman ensiklopedia negara dunia yang tebalnya setinggi 10cm. Membaca dengan detail bab 22, pembahasan mengenai Inggris. Saat itu aku begitu gelisah, hari minggu ini adalah tes interview program pertukaran pelajar (AFS) yang  telah sampai pada beberapa tahap, kuyakin ini perlu persiapan yang matang. Sudah kupersiapkan jawaban panjang untuk pertanyaan “negara apa yang ingin kamu pilih untuk AFS?” Kesempatan yang telah kutunggu sejak mendengar info program ini dari tanteku di Jakarta. Sebuah kesempatan yang terbuka lebar untukku mencapai apa yang kuidam-idamkan sejak SD. ENGLAND I’ll be there. I’ll win this.

 

Kemudian Tuhan memberikanku rezeki yang lain. AFS meluluskanku untuk program pertukaran ke Jepang. Negara yang imejnya sedikit negatif dibenak ini sejak membaca beberapa artikel mengenai fragilitas dan insekuiritas Masyarakat Jepang. Sungguh aku sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan tiga minggu mengunjungi Jepang.  Saat itu aku bertanya pada Tuhan, Mengapa harus Jepang? Mengapa? Pertanyaan-pertanyaan yang kutarik kembali sepulang dari Jepang. Tak terpikir bagiku untuk Jatuh cinta pada negeri Matahari itu. Secinta diriku pada mimpi tentang Inggris, Jepang telah memperkaya pandanganku tentang dunia, memberikanku semangat untuk menjelajah isinya, dan memperdalam kecintaanku pada kehidupan. Namun, Inggris tetap tidak goyah. Eropa tidak pernah mati.

…………………………………………..

THERE IS NO LIFE WITHOUT A DREAM.

Jikalau kebahagian adalah pelumas (read my previous post), maka mimpi adalah baterai untuk hidup, mimpi akan berakumulasi sebagai tujuan, dan tujuan lah yang membuat setiap individu berjalan, bergerak, dan berusaha untuk hidup setiap harinya. Seorang narapidana tetap bertahan hidup di dalam penjara yang terisolasi karena adanya mimpi untuk menghirup kebebasan. Seorang miskin pada akhirnya berhasil sukses di kota besar karena adanya mimpi  untuk keluar dari kehidupan yang sengsara. Atau, mungkin saja jika Leonardo DaVinci tidak pernah bermimpi untuk bisa terbang seperti burung, maka prinisp aerodinamik tidak akan pernah ditemukan. Ya, menurutku sekuat itu mimpi dapat menginspirasi jalannya kehidupan.

Mimpi membuat kita mampu melawan segala keterbatasan, menyelesaikan semua ketidakmungkinan dalam hidup. Tidak salah, hampir seluruh tokoh penting di dunia mencapai manifestasi sukses karena mimpi. Bisa dilihat tiap kali browsing internet, ada jutaan quotation atau kutipan-kutipan penuh inspirasi tentang bagaimana mimpi bekerja, karena semua orang mungkin tahu bahwa mimpi adalah esensi, adalah hakiki dari kehidupan.

Sayangnya, tidak semua orang mampu untuk menjaga mimpi untuk tetap hidup.

Banyak pula kisah mengenai mereka yang menyangsikan eksistensi mimpi, gagal dalam mewujudkannya, dan menyerah kepada kehidupan. Too many factors will crush your dream selama perjalanan hidup, jadi hanya satu pesan yang bisa saya sampaikan pada diriku dan orang lain, KEEP HOLDING ON. If there’s a will, there’s a way. Seperti bagaimana sebuah mimpi yang sejak satu dekade lalu selalu kusimpan di korteks prefrontal otak.

Beberapa kali aku hampir mengubur mimpi tersebut, karena beberapa tahun lalu, mungkin menginjakkan kaki di Inggris terutama di usia sangat muda adalah sebuah hal yang cukup disangsikan. Aku sempat berpikir, mungkin lain kali saja, mungkin dua puluh tahun lagi saja, baru akan datang kesempatan untuk mewujudkan mimpi kecilku itu.

Apalagi ketika satu-satunya kesempatanku untuk meraih Inggris dengan pertukaran pelajar justru membelokkannya. Hal ini diperburuk setelah aku akhirnya memasuki dunia perguruan tinggi di sebuah fakultas tempat mimpi dikubur, diperangkap, dicuci, dan dibrainwash menjadi jenis mimpi lain yang diisolasi dalam dunia gelap feodalisme kesehatan. Yap, fakultas kedokteran. Trust me, as sarcastic I sound mengenai fakultas yang ilmunya saya senangi (I love the knowledge thou), dan prinsip awalnya yang mulia. It’s full of enormous wave of twist and controversy, masuk di dunia kedokteran, sedikit banyak akan menghambat ruang untuk berkreasi dan mewujudkan mimpi. Benar, tidak sedikit rekan-rekan yang mesti rela untuk mengubur atau me-nonaktifkan mimpi karena berada disini, meskipun ada juga sebagian yang berhasil mewujudkan mimpi-mimpi liar non kedokterannya (I wish I could too).

Seperti itulah adanya, 80% dokter akan menjalani hidup yang menurutku cukup monoton. Bangun pagi kemudian berangkat ke Rumah Sakit, memeriksa pasien, kemudian hijrah ke rumah sakit lain sorenya, malamnya praktik pribadi, lalu tidur, kemudian bangun pagi besoknya dan menjalani rutinitas yang sama. Aku tak ingin terjebak dalam siklus yang sama. Aku tak ingin menghabiskan hidupku melewati jalanan yang sama di kota yang sama, kemudian berakhir mengalami mid life crisis ketika sadar bahwa begitu banyak waktu telah kutinggalkan tanpa ku keluar dari safety zone dan mengeskplor kapasitas mimpi. Kalaupun profesi dokter sudah kupegang di tangan, aku berharap untuk bekerja nomaden di daerah-daerah rural yang membutuhkan bantuan kemanusiaan, doing humanitarian works with a sense of dynamics adventure.

 

Well, 6 tahun pendidikan ini tidak mudah. Terperangkap di dalam Rumah Sakit hampir setiap hari dibawah tekanan dari residen, supervisor, perawat, dan bahkan pasien tampak cukup untuk memerangkapkan dirimu dalam kubus isolasi bertajuk dunia medis. Ditambah motto Medical studies is a long life learning, you will learn until you die, tampaknya cukup untuk membuatku membayangkan sebuah hidup monoton with high tenacity. Miris rasanya, ketika aku membuka Instagram, melihat foto teman-teman sebaya yang kini sudah melanglang buana di negeri orang, berkarya dan mengembangkan bakat, atau ketika berpapasan dengan Juniorku yang kini telah bisa menghidupi diri sendiri secara mandiri. And here I am, masih tetap memeriksa tekanan darah pasien di poliklinik penyakit dalam sambil mendengar amarah residen yang juga habis dimarahi oleh supervisor galak yang hanya datang satu kali seminggu. BELUM PRODUKTIF DI USIA YANG SEMESTINYA PRODUKTIF. No, it’s not that I hate treating patient, it just… there’s much bigger LIFE than this, and there’s a DREAM I dream waits to be unleashed.

Tetapi… sama ketika masa-masa bully di zaman SD dulu. Mimpi ini jugalah yang membuatku tetap bertahan melewati hari-hari pendidikan yang berat, melewati setiap tahapn ujian, tantangan dan masalah-masalah yang pelik selama pendidikanku. Keyakinan bahwa suatu saat aku akan menapaki Inggris dan benua Eropa. Hingga akhirnya postingan ini ditulis, dan ketika pendidikan kedokteranku tidak lama lagi akan selesai (akhirnya), ada perasaan dan firasat yang aneh dalam diriku bahwa tak lama lagi mimpi masa kecil yang usianya sudah mencapai satu dekade akan segera terwujud. Bahwa tak lama lagi the land of hope and glory akan kujelajahi. Sebab, saya yakin ketika kita meyakini mimpi, menjaganya, dan menjadikannya baterai dalam menjalani hidup, anything is possible, right?

Image(trying to snatching pic and eating snack when there’s no patient around).

Sincerely, me.

Tinggalkan komentar